Langsung ke konten utama

Postingan

SEMBARI MENANTI BELAHAN JIWA

Jika orang-orang bilang, pada masa sekarang perempuan lebih mudah menentukan nasibnya termasuk pada pilihan-pilihan atas pernikahan. Nyatanya itu tidak berlaku bagi saya. Tiap lebaran atau pulang kampung, pasti ditanya-tanya. Sebenarnya saya sudah kadung membandel dan tidak peduli.

Suatu ketika, keluarga pernah mempertanyakan "kenormalan" saya. Aih, apa pula itu yang normal dan tak normal. Bahkan kalau saya aseksual sekalipun, sungguh itupun bukan ketidaknormalan. Sejujurnya, jauh didalam hati saya ada sebuah keinginan: keterpasangan. Tak diungkapkan adalah soal lain.

Apakah saya memiliki gambaran mengenai kehidupan bersama? Dari keluarga inti, saya menangkap kegagalan. Sebagai pendamping korban kekerasan di Pusat Pelayanan Terpadu, yang terasa juga tak berbeda. Saya juga menangkap realitas-realitas yang tak menyenangkan dalam aktivitas berumah tangga. Mencari-cari, apa yang salah dalam proses itu. Kenapa bisa terjadi?

Kengapa mentransfer harapan atau apa yang dirasakan pada…
Postingan terbaru

BUMI dan MARS (2)

Rasa Bumi semakin menjadi-jadi jika tak mau dikatakan tak terkendali. Pertanyaannya, apatah manusia serupa robot yang bisa dikontrol dengan remot? Pikirannya diselimuti perasaan. Mars adalah segala baginya. Bumi berotasi bukan lagi pada dirinya, dan itu sudah sejak lama. Pusatnya adalah Mars. Revolusinya. Demi Mars, Bumi rela melakukan apapun. Apapun!
Apakah bumi diperbudak oleh rasa?
Saat Bumi tahu Mars menikah, ia serupa gila.  Perpisahan diantara mereka mulai terasa bahkan sebelum janji suci terikrar. Saban waktu, Bumi psikosomatis tiap kali mengingat Mars ia merasa mual dan pusing. Ia tak hendak menelan apapun, tak ada lapar. Ia ingin Mars saja. Disini.
Ia patah, sepatah patahnya. Segala yang telah mereka bagi bersama jadi tak bermakna. Menjadi sia. Betapa menyedihkannya, ia akan ditinggalkan sendiri lagi, semesta energi Bumi menjadi hilang. Terambang tanpa gravitasi.
Ia menghirup aroma Mars dalam jubahnya yang kemerahan. Menyesakkan hatinya, paru-paru seolah sempit seperti terac…

BUMI dan MARS

Bagi Bumi, Mars adalah cinta dalam segala wujud yang ia damba. Ia mendaku pada siapapun yang bertanya soal hubungan mereka bahwa Mars adalah seorang abang. Tentu saja bukan abang kandung sebab semua orang yang mengenalnya tahu bahwa Bumi anak sulung. Meskipun terlihat selalu riang dan punya banyak teman. Faktanya, Bumi memang sepi. Padanya ditanam sejuta harapan meski kemudian  dihantam banyak kecewa.
Bersama Mars, seperti manusia di padang yang bertemu oase. Genap sudah rindunya pada sosok yang dapat diajak bercerita, berbagi dan menyerap seluruh semangat kedalam jiwa. Celoteh rianya menemukan muara. Selalu merasa penuh dan tak kekurangan. Begitu selanjutnya, bertahun-tahun bersama tak terlintas di benak Bumi hendak berkekasih. Sebab sebenar-benarnya Mars adalah yang pertama. Lima tahun mengenal Mars, ia tak menginginkan siapa-siapa lagi.  Apapun yang ia damba dari seorang lelaki baik sebagai teman maupun abang meski lama-lama ... sejujurnya rasa pada hati, ia mulai ingin lebih dari…

Ana Uhibbuka

Malam ini ada teman yang sangat baik  bercerita, panjang dan sedih. Aku menyayangi teman ini, sebab kebaikan hatinya dan sungguh karena Allah. Dia ini mengingatkan ku pada teman yang lain di kota tempat kutinggal.

Tingginya barangkali 150 cm juga sepertiku sebab seringkali saat bersisian aku merasa sejajar. Dia berkulit bersih dan sebenarnya agak centil. 
Suatu hari di tahun 2017 yang lalu. Sepulang dari desa binaan menuju kota Lhokseumawe. Seperti biasa aku menggocengnya dibelakang motor. Iseng, sudah lama aku penasaran lalu kutanya arti namanya, mengapa Rika Uhibbuka? Adakah kisah yang melatarinya?
Di tertawa sambil menceritakan sebuah kisah dari hadist Nabi. Berikut aku ceritakan kembali.
Ada kisah sahabat yang dicintai akan bersama didalam surga yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat Anas bin Malik.
Ada seorang sahabat yang sedang berada di sisi Nabi shāllallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, lalu lewatlah seseorang di hadapan mereka. Kemudian sahabat ini mengat…

PATAH

Sesekali saat ia senggang
Atau saat ingin,
Ia akan menyiram hati yang kecil
Meski sesekali
Air menumbuhkan tunas asa
Ah, mengapa akhirnya tertanam rasa?

Orang melarikan layang layang agar terbang mengangkasa
Bagaimana dengan layang harapan yang sejak awal cuma rangka?
Aku sendiri saja yang merangkainya
Dengan harap dan segenap khidmat
Dia serupa tak hendak memberi tali

Lalu apa arti kata padaku "buka hatimu"
Datang padaku saat rindumu menggebu
Tapi apa?
Ternyata usai sudah pelarianmu


Banda Aceh, Agustus 2019
*) Pict taken from Google

Mengungkap Gangguan Jiwa

Dibuka pada 23 Agustus hingga 26 Agustus mendatang. Sebuah Pameran Seni (Kolektif Tugas Akhir) dihelat di Rumah Budaya, di Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.  Sesuai catatan kurator Donna Carolina, M.Sn yang saya kutip di spanduk besar yang terletak di aula. Bahwa tajuknya sebagai Gangguan Jiwa disandarkan atas kegelisahan empat seniman muda yang berefleksi dari kejadian masa lampau.    

Adapun mereka berempat adalah Nikmatun Imdad, Fachrurrazi, Taqwallah dan Rafi Karimullah. Mereka mengekspresikan pengalaman empiris Aceh dalam hal peradaban Islam, Budaya Aceh, pelanggaran HAM juga kerusakan lingkungan dalam berbagai media. Lukisan, kriya kayu, logam dan Mixed Media. Ini dilihat dari pemilihan judul dan pemilihan ekspresi simbolik seperti selongsong peluru, warna merah darah, kupiah meukeutop, nisan dan batang kayu. Tetapi ada pula beberapa karya yang dipajang disudut tak berjudul.
Dalam hal ini saya tidak akan mengulas soal teknik. Tentu saja itu dikarenakan oleh ketidakmampuan saya dibi…

Al Quran, Hadist dan Serambi Indonesia

Tujuh tahun yang lalu, saya masih seorang siswi angkatan kedua di Sekolah Demokrasi Aceh Utara. Pada tahun 2012 itu sangat masih ingat jelas, ada materi soal media dan bagaimana menyikapi sebuah kabar (pemberitaan). Saat itu dikatakan oleh pengajar bahwa butuh yang namanya verifikasi dalam setiap berita agar tidak terjebak pada berita bohong. Penting bagi kita untuk memastikan kita mengunyah berita yang benar. Sehingga untuk satu berita saja kita perlu membaca 10 media berbeda. Berat? Tentu saja.


Lalu, salah seorang teman mengatakan ada sebuah anekdote di Aceh yang bunyinya Tingkat kepercayaan di Aceh itu pertama Al Quran, lalu Hadist dan yang terakhir Serambi Indonesia. Tentu saja  ia berseloroh, namun SI memang benar merupakan punggawa media cetak di Aceh terlebih pada saat itu belum begitu banyak media-media online seperti hari ini.
Kenangan ini masih jelas di ingatan saya, sampai hari ini saya masih sangat menghormati dan mengagumi Serambi. Sampai saya tertampar pada beberapa pember…