Langsung ke konten utama

Postingan

It's not a Farewell Party

Semalam saya terbangun sebentar-sebentar. Hampir setiap jamnya, macam-macam perasaan yang hadir saat terbangun. Aneh sekali, karena mustinya saya pulas sebab sejak kemarin kurang tidur. Maklum, saya kedatangan tamu dari Aceh Utara-teman saat bekerja dulu di Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan dulu. Hati saya gelisah, saya redakan dengan kekamar mandi hanya untuk pipis atau mencuci wajah saja.  Huft,  Minggu ini saya menerima dua ajakan makan berdua saja, bukan dating biasa. Satu dari kakak keuangan dikantor saya, ia akan pindah kekantor baru yang masih satu kota dan bekerja di isu yang sering beririsan. Padanya saya telah menjawab: "Hey, tidak ada perpisahan diantara kita."  Sementara satu lagi dari seseorang yang sudah saya anggap sebagai adik, ia pindah sebab diterima bekerja di Bangkok. Padanya mustahil saya bilang tidak ada perpisahan sebab secara fisik pun raga akan terjarak. Saya merasa krisis! Kacau!   Adik angkat saya; Sharrah malah men- challenge saya dengan menanyak
Postingan terbaru

Suzuya Mall Banda Aceh Terbakar

Suzuya Mall Banda Aceh, letaknya di Seutui. Kampung tempat saat ini saya tinggali, waktu tempuh sekira 20 menit saja kalau jalan santai atau 4 menit dengan sepeda motor. Tempat perbelanjaan (hampir) serba ada ini gak terlalu spesial, cuma sering ada diskon dan beberapa barang/merek yang gak dijual bebas seperti Ace, The Body Shop, Miniso aja yang buat saya kesana. Tentu, sebagian besar bukan belanja beneran barang-barang tersebut melainkan window shopping , cari inspirasi atau nambah semangat nabung . Biasanya, setiap dua minggu saya selalu belanja bahan rumah tangga. Sebagian barang yang tahan lama saya beli di pasar modern seperti swalayan, banyak diskon yang ditawarkan. Sementara bahan tak awet seperti sayuran dan ikan saya beli di pasar tradisional, karena biasanya lebih murah dan seringkali langsung dari tangan pertama (petani). Itu kebiasaan yang sudah saya bangun sejak 2 tahun yang lalu untuk menjaga efisiensi dan tetap ekonomis. Rino suka menemani saya belanja, yang sebenarnya

Babi yang Terpilih

Sebagai orang baligh, saya dan Dani bersepakat ingin menjadi orang kaya dan tak ingin meminta-minta pada lelaki manapun baik ayah maupun calon suami. Tentu, ini adalah harapan mulia perempuan mandiri. Bedanya, Dani membuat perencanaan dengan baik karena dia berakal sehat, dan dosen hubungan Internasional serta memiliki sepetak kebun. Sementara saya hanya memiliki hamparan harapan. Keluarganya Dani yang punya tanah luas, sehingga ia memprovokasi keluarganya agar mereka mau membantu atau ikut investasi aren. seluwes agen MLM, Dani menjelaskan keuntungan dari pohon Aren yang didapat dari download riset² di google sarjana. Dani memang dosen sejati.  Setelah memprovokasi paman-pamannya akhirnya mereka setuju agar tanahnya juga ditanami aren. Ini terjadi karena Dani memberikan mimpi-mimpi indah dari pohon aren yang mulai akar, batang dan buahnya bermanfaat. Dani sudah belajar tentang ekonomi hijau. Suatu hari di bulan yang lalu Dani mengirimkan kiriman foto-foto batang aren yang telah ditana

Meet you Again, Lovember

"Kak, kakak harus bilang makasih sama diri sendiri karena udah hebat melewati tahun ini" kata adik perempuan saya. Bijak sekali. Iya dik, ini adalah tahun banyak air mata. Karena nya saya berterima kasih pada Nana yang sudah melewati 2021 dengan gagah. Semoga kalian melakukan hal yang sama,pada tubuh, hati dan pikiran yang sudah bekerja keras. Bukankah tahun ini perjuangan kita telah amat keras bukan untuk maju tapi bertahan. Bagi saya, ini adalah tahun perlawanan dan penerimaan bagi diri saya sendiri. Meskipun, ada banyak sekali sisipan kado didalamnya, salah satunya adalah bertemu Rino (sebagai pacar). Pembuktian bahwa yang datang lebih baik dari yang pergi (lebih tepatnya saya tinggalkan karena buruk bagi kesehatan psikis). Kebetulan yang menyenangkan juga bahwa kami lahir di bulan yang sama yakni Desember, kami lahir dibulan yang sama. Sejak karena orang yang saya cinta lahir dibulan ini maka sejak itu Desember menjadi Lovember bagi saya. 1 menit lagi Desember menjad

Doa Sang Pencinta

Setelah belasan kali mengganti nama saya di kontak telepon genggam miliknya, Oh iya terakhir kali nama saya ditulis dalam bahasa latin yang artinya kira-kira calon istri. Begitulah, entah pusing sebab merasa tidak ada nama yang cocok atau sebenarnya semua bahasa yang ada di google translate sudah dijabaninya, cuma saya yang tak tahu, whahaha. Rino (keknya bingung mo buat nama saya sebagai siapa) akhirnya bertanya. Hadeuh, dia ini memang kelihatan saja serius tapi (sebenarnya) banyak lucunya. Tentulah tak jadi soal bagi saya ditulis apa, Nana oke, kekasih boleh, teman (hidup), sayang juga bisa bahkan jika ia merasa selama ini saya seperti intel yang memata-matai pergerakannya dalam menulis berita, diberi nama CIA pun tak mengapa­čść (resikonya paling-paling saya protes). 'Ya udah, sayang aja ya" Rino kayaknya sudah menyerah pada tukar-menukar nama di kontak yang tak pernah dirasa PAS seperti label top SPBU yang oke punya. Sempat dikirmkannya screenshotan sebelumnya ke saya. S

Semoga Kamu Faham

Suatu pagi, berjam-jam sebelum berangkat kekantor sembari memasak seorang kolega mengirim pesan. Dia tanya apakah saya mendengar kasus pelecehan seksual yang menimpa mahasiswi di kota kelahiran saya? "Tentu, saya membacanya. Kenapa?" Ia menjawab, korban yang awalnya 11 menyusut jadi 4 saja, narasumber ternyata tak cukup bukti. Begitu, kolega saya yang juga laki-laki itu membalas. Saya berang. A dan R sedang bermain di pameran seni HAKTP di Patabolin Studio Kolega saya bukanlah laki-laki kampungan yang petantang-petenteng di jalanan. Ia adalah seorang pengajar, berteman dengan banyak jenis orang termasuk yang bergiat di media tak serta merta membuat ia memiliki cara fikir yang adil. Benarlah dikata orang, yang menanam harapan akan mendulang kecewa. Saya salah satunya. Lagipula, sejak kapan yang mengenyam pendidikan tinggi tak mungkin jadi pelaku? Lagipula informasi yang menduduki tataran kognitif serta merta masuk ke nurani? kita tak dididik sebagai spiritualis.  Mari baca 15

Lelaki yang kupanggil Sayang

Jika cinta adalah seni, maka Rino adalah seniman terbaik. Tentu saja versi hati saya.  Beberapa bulan sebelum 2019, berita-berita kekerasan seksual saya baca dan bincangkan dengan seorang teman, ditulis dengan sangat baik oleh jurnalis Liputan.6 : Rino Abonita. Penasaran betul dengan penulis nya, awal dugaan tentulah ia jurnalis yang berdiam diluar Aceh cum non Aceh. Sampai Fuadi (teman saya) bilang kalau dia sudah ngopi darat. "Napa gak ajak aku?" sempat saya menggugat. "Aduh, tiba-tiba Na. Nanti ya" Fuadi membela diri. Tetapi ternyata, itu adalah nanti yang tak pernah datang sampai suatu sore di Diskusi Sabtuan KontraS Aceh bertema Psikologi Korupsi, Rino datang. Ya, saya tak cukup baik mengingat angka tapi waktu itu adalah pengecualian. 30 November 2019 (saya ingat, sebab itu tanggal yang sama dengan hari lahir Ayah saya). Khas! berkaca mata, pakai topi, jaket less merah  dan bersandal  swallow .  Tapi saya tak tau entah bagaimana prosesnya. Jikapun diceritakan t