Langsung ke konten utama

Postingan

Self Love ; Mulai dari Tubuhmu

Beberapa bulan yang lalu, sahabat saya menginap dirumah selama dua hari. Saya memberikan dia pakaian tidur saya kalau boleh jujur ya kebanyakan berupa  hotpans, kaos,  tanktop bahkan saya punya beberapa lingerie. Sempat ia agak terkejut (saat melihat lingerie)  sambil tertawa, "Aku yang punya pasangan (seksual) kenapa qe (kamu) yang membeli lingerie." Saya balas tertawa, ah iya saya memang single. Dan boleh jadi, orang bertanya-tanya buat apa sih lingerie buat orang seperti saya? Mau menggoda siapa Na? Mari saya ceritakan, hal yang tak pernah saya sampaikan ke orang-orang bahwa sebenarnya  saya punya issue soal rasa insecure . Secara postur, saya yang tergolong pendek ini mungkin terlihat biasa dan proporsional. Oh, tidak! Untuk perempuan kebanyakan payudara saya itu termasuk ukuran besar. Saya juga kesulitan mencari bra yang cocok untuk dipakai. Selama ini, saya hanya memuja bra-bra yang terpajang cantik di toko-toko pakaian dalam, tanpa mungkin membeli atau memakainya.
Postingan terbaru

Kali ini, biarlah saya akhiri!

Sebenarnya saat itu saya agak terluka ketika kamu sempat mengutarakan apakah ada jejak lelaki lain pada diri saya? Saya memang hanya berkata "abang gila ya?" Tapi hati saya luka. Mengapa seolah saya sangat rendahan dihadapanmu. Bukannya kamu tahu betul cuma kamu satu-satunya laki-laki yang mampu membuka hati saya. Sialnya kamu membukanya tanpa harus membuka hatimu terlebih dahulu.  Oh iya, tentu saja saya mengakui dalam hubungan kita saya lah yang bersalah. Saya yang memulainya, lalu dengan sadar biarkan rasa menjejak jiwa dan pikiran. Padahal sejak awal saya telah bersumpah tidak akan menerima kapal-kapal yang singgah. Tetapi dalam kasus kita, saya tidak menduga. Saat menulis ini saya sedang kembali ke masa lalu. Di awal saat saya malu-malu menganggukkan kepala ketika kamu bilang "boleh aku cium?"  Saya tersekat belum pernah ada satu laki-laki pun yang meminta-minta. Dengan begitu manisnya, sebuah kecupan di pipi dari laki-laki itu begitu saya cinta. Afternya meman

Cari Penginapan di Pidie? (Secuil Review dari Nana) 1

18/11/2020 Dalam perjalanan kerja, situasi membuat tim kami harus menginap di Pidie yang beribukota Sigli. Sesungguhnya gak pernah dalam sejarah kami menginap dikota ini. selain jaraknya yang gak begitu jauh dengan Banda Aceh. Pun tujuan akhir kami ke Lhokseumawe. Tapi seperti yang disampaikan diawal. Kondisi mengharuskan kami, pun sayang juga driver yang kelelahan kalau harus kejar jam tayang.  Setelah cari sana sini. Kami putuskan untuk menginap di 5 Hotel, saya sebenarnya tak mau menceritakan apapun perihal penginapan tersebut. selain biaya kamar standar Rp. 250.000 namun jika kawan-kawan mau memilih kamar lebih kecil dengan tempat tidur queen, hanya Rp. 150.000. Karena pandemi, gak ada sarapan pagi.   Hotelnya bersih, seberangnya ada mesjid. Saya awalnya merencanakan keliling dan foto-foto.  Tapi sebuah tragedi tengah malam membuat semua buyar. Pukul 1.48 pagi, kamar kami diketuk lumayan kencang. Saya diam, teman saya: Sharrah juga terdiam. Ia yang berpikir banyak nonton film horor

Yang Harus Dilupakan

Tiap kali saya rindu, ingat dan ingin kamu, Saya akan ingat hari itu. Tak pernah saya sesedih hari itu. Melihat kamu yang sayu, tapi kadang memaksakan diri berbicara atau menarik sudut bibirmu saat ada yang menyapa dan berbicara. Hampir-hampir saya tidak dapat menahan diri untuk tak menyentuh kamu. Saya ingin memegang pundakmu, menguatkan dalam lemah. Tapi, saya tidak bisa lakukan itu.  Dari pintu ruangan, matamu berkaca-kaca. Ah, siapa pula yang tak sedih ditinggal oleh Ibu, tiba-tiba pula. Saya rasanya mau berlari memeluk kamu. Tapi yang paling logis dan masuk akal untuk dilakukan adalah diam dan hanya menatap saja. Saya bisa apa?  Disana saya melihatnya. Calon istrimu. Saya diam, dan tahu dimana posisi saya buatmu. Bukan siapa-siapa! hanya selingkuhan saja. Oh, bukan! levelnya lebih rendah dari itu. Perempuan yang kamu pakai saat ingin, tidak lebih! Seperti yang kamu katakan "barang gratisan!" Tetapi andai kamu bijaksana. Sebagaimana yang sempat kamu katakan pada saya dulu

Surat-surat Nana

Awalnya berniat membersihkan email. Lalu menemukan surat yang usianya menjelang 3 tahun. Source: Pixabay Memulai 7 hari sudah berlalu sejak na meng antar abang ke stasiun kereta api sebelum kemudian bertolak kembali ke Yogyakarta. Kota impian nya pelajar yang lulus SMA untuk melanjutkan sekolah . Kota yang sayu mendayu kalau gak mau disebut romantis. Sepulang ke Lhokseumawe banyak hal berlarian ingin segera didahulukan. Persiapan Monev, Data yang harus ditambah, jualan kopi dan exit strategy biar tetap survive setelah kontrak kerja berakhir nanti. Lalu na ingat janji na untuk menulis surat setiap minggu buat abang. Surat ini bagian dari belajar menulis bahasa inggris dan memperkaya vocabulary. Inilah surat pertama di hari minggu. Biar kelihatan berbobot dan keren kedepan mungkin isinya adalah resensi buku The Other 8 hours ya bang . Ha..ha..ha.. Sebelum itu semua antri satu per satu untuk dikerjakan. Sebuah telepon masuk, undangan makan dari teman sekolah dulu dan

Jangan Ada Anjing diantara Kita (Refleksi film Replika Cinta di Pulau Rubiah)

Setelah 13 menit usai menonton film tersebut. Saya terdiam, campuran perasaan meluap-luap didada. Barangkali ini menjadi sangat personal, bagi saya tak mudah memutuskan menikah. Sebab, itu adalah muara dari penerimaan-penerimaan terhadap perbedaan baik sikap, pikir maupun kebiasaan dan kompromi-kompromi atasnya. Bertanyalah saya, bagaimanakah cinta yang memaksa? Meminta tanpa mau memberi. Pada nilai-nilai kebenaran universal barang tentu kita tak dapat berkompromi. Bagaimana jika itu adalah kecintaan terhadap makhluk hidup meski ia hanyalah seekor anjing. Semurah itu harga sebuah hubungan? Harga upaya, usaha dan pengorbanan adek yang datang ke Sabang demi prawedding jadi tak berharga.  Hanya karena seekor anjing. Sebagai sesama orang yang kurang suka pada anjing (kebetulan saya trauma karena pernah dikejar anjing). Menempatkan diri pada posisi abang, mungkin saya akan bilang “sama’ dirimu sebelum kau sentuh aku.” Memang rasanya menjadi kocak Dalam satu adegan di

Good Bye An

Nay melepaskan semua martabat dan harga diri yang disebut-sebut oleh orang-orang disekitar. Persetan! Dan An dengan  keterlaluan bilang mereka hanya teman. Hari-hari yang mereka lalui sungguh tiada arti bagi An? Sedari awal Bukan Nay yang meminta, An sendiri yang memaksa masuk dalam hidupnya. Nay mencoba mengingat, belasan penolakan yang ia berikan pada An. Bangsat! Hatinya berdarah lagi. “Bilang padaku kalau nanti kamu punya pacar, rasa sayangku tidak akan berkurang” “Mengapa bukan kau saja yang jadi pacarku” “Kita bukan remaja, kata pacaran sungguh tak cocok untuk kita Nay” “Yang kita jalani apa An?” “Hubungan tak terdefinisikan Nay. Aku cinta kamu, itu cukup bagi kita” Tanganku terkepal, aku sebenarnya marah. Tapi sejak awal ini adalah hubungan tanpa nama. An tak salah. Kalau sekarang ia yang merasa goyah dan ingin ada sekuritas dalam relasi mereka berdua. Maka Nay yang tersesat dan tiba-tiba tak mampu lagi untuk melanjutkan hubungan yang tak tahu hendak