Langsung ke konten utama

Kali ini, biarlah saya akhiri!

Sebenarnya saat itu saya agak terluka ketika kamu sempat mengutarakan apakah ada jejak lelaki lain pada diri saya? Saya memang hanya berkata "abang gila ya?"

Tapi hati saya luka. Mengapa seolah saya sangat rendahan dihadapanmu. Bukannya kamu tahu betul cuma kamu satu-satunya laki-laki yang mampu membuka hati saya. Sialnya kamu membukanya tanpa harus membuka hatimu terlebih dahulu. 

Oh iya, tentu saja saya mengakui dalam hubungan kita saya lah yang bersalah. Saya yang memulainya, lalu dengan sadar biarkan rasa menjejak jiwa dan pikiran. Padahal sejak awal saya telah bersumpah tidak akan menerima kapal-kapal yang singgah. Tetapi dalam kasus kita, saya tidak menduga.

Saat menulis ini saya sedang kembali ke masa lalu. Di awal saat saya malu-malu menganggukkan kepala ketika kamu bilang "boleh aku cium?" 

Saya tersekat belum pernah ada satu laki-laki pun yang meminta-minta. Dengan begitu manisnya, sebuah kecupan di pipi dari laki-laki itu begitu saya cinta. Afternya memang agak canggung meski mungkin kamu tidak pernah merasakannya, tapi setelah kecanggungan itu luka satu persatu datang ke hati saya. 

Saya mengerti kalau kamu lepas dari hubungan kita yang absurd dan tanpa nama. Meski cinta, saya gak akan ikat kamu, paksa kamu, menjebakmu. Saya dengan sekuat tenaga membunuh rasa ini. 

Oh tapi pertanyaannya kenapa harus ada kata melepas? Bukankah sejak awal kita tidak terikat? Jika kemudian kita tidak saling memiliki, bagaimana bisa kehilangan.

Mengapa saya harus merasa kehilangan? Bukankah sejak awal, saya tak memilikimu. Saya harus camkan itu berkali-kali di hati saya bahwa sudah cukup 10 bulan saya menjalani cinta sendiri. Bertepuk sebelah tangan.

Bukannya tak pernah mencoba move on dari kamu. Diperkenalkan oleh teman dengan seseorang. Berjumpa, ngopi tapi hati saya berkata "tak bisa!" Akhirnya hanya jadi teman tegur sapa. Sungguh sial! Sulit bagi saya untuk jatuh cinta. 

Di hari-hari akhir 2020 ini, saya telah berpikir banyak kali. Nasihat seorang teman tiba tiba membekas dihati. "Hiduplah dengan dirimu sendiri". Oke, saya akan menggagalkan, kali ini biarlah saya mengakhirinya. Tak ada cinta, mustahil bagi kita menjadi pasangan. Tetapi setidaknya mari menjadi teman bang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat-surat Nana

Awalnya berniat membersihkan email. Lalu menemukan surat yang usianya menjelang 3 tahun. Memulai 7 hari sudah berlalu sejak na meng antar abang ke stasiun kereta api sebelum kemudian bertolak kembali ke Yogyakarta. Kota impian nya pelajar yang lulus SMA untuk melanjutkan sekolah . Kota yang sayu mendayu kalau gak mau disebut romantis. Sepulang ke Lhokseumawe banyak hal berlarian ingin segera didahulukan. Persiapan Monev, Data yang harus ditambah, jualan kopi dan exit strategy biar tetap survive setelah kontrak kerja berakhir nanti. Lalu na ingat janji na untuk menulis surat setiap minggu buat abang. Surat ini bagian dari belajar menulis bahasa inggris dan memperkaya vocabulary. Inilah surat pertama di hari minggu. Biar kelihatan berbobot dan keren kedepan mungkin isinya adalah resensi buku The Other 8 hours ya bang . Ha..ha..ha.. Sebelum itu semua antri satu per satu untuk dikerjakan. Sebuah telepon masuk, undangan makan dari teman sekolah dulu dan itu terlalu man

Jangan Ada Anjing diantara Kita (Refleksi film Replika Cinta di Pulau Rubiah)

Setelah 13 menit usai menonton film tersebut. Saya terdiam, campuran perasaan meluap-luap didada. Barangkali ini menjadi sangat personal, bagi saya tak mudah memutuskan menikah. Sebab, itu adalah muara dari penerimaan-penerimaan terhadap perbedaan baik sikap, pikir maupun kebiasaan dan kompromi-kompromi atasnya. Bertanyalah saya, bagaimanakah cinta yang memaksa? Meminta tanpa mau memberi. Pada nilai-nilai kebenaran universal barang tentu kita tak dapat berkompromi. Bagaimana jika itu adalah kecintaan terhadap makhluk hidup meski ia hanyalah seekor anjing. Semurah itu harga sebuah hubungan? Harga upaya, usaha dan pengorbanan adek yang datang ke Sabang demi prawedding jadi tak berharga.  Hanya karena seekor anjing. Sebagai sesama orang yang kurang suka pada anjing (kebetulan saya trauma karena pernah dikejar anjing). Menempatkan diri pada posisi abang, mungkin saya akan bilang “sama’ dirimu sebelum kau sentuh aku.” Memang rasanya menjadi kocak Dalam satu adegan di

Yang Harus Dilupakan

Tiap kali saya rindu, ingat dan ingin kamu, Saya akan ingat hari itu. Tak pernah saya sesedih hari itu. Melihat kamu yang sayu, tapi kadang memaksakan diri berbicara atau menarik sudut bibirmu saat ada yang menyapa dan berbicara. Hampir-hampir saya tidak dapat menahan diri untuk tak menyentuh kamu. Saya ingin memegang pundakmu, menguatkan dalam lemah. Tapi, saya tidak bisa lakukan itu.  Dari pintu ruangan, matamu berkaca-kaca. Ah, siapa pula yang tak sedih ditinggal oleh Ibu, tiba-tiba pula. Saya rasanya mau berlari memeluk kamu. Tapi yang paling logis dan masuk akal untuk dilakukan adalah diam dan hanya menatap saja. Saya bisa apa?  Disana saya melihatnya. Calon istrimu. Saya diam, dan tahu dimana posisi saya buatmu. Bukan siapa-siapa! hanya selingkuhan saja. Oh, bukan! levelnya lebih rendah dari itu. Perempuan yang kamu pakai saat ingin, tidak lebih! Seperti yang kamu katakan "barang gratisan!" Tetapi andai kamu bijaksana. Sebagaimana yang sempat kamu katakan pada saya dulu